Tuan Haji Ismail bin Haji Ahmad: Herbalis dari Perlis

Awalnya menjual jamu di pasar malam dengan sepeda, kini produknya merambah ke berbagai negara.

Tuan Haji IsmailBerbicara mengenai thibunnabawi, sosok Tuan Haji Ismail (47) tidak mungkin dilewatkan begitu saja. Maklum, melalui perusahaan Herba Penawar Al-Wahida yang beliau dirikan, Tuan Haji, begitu beliau biasa dipanggil, menyalurka obat-obatan herbal tidak hanya di Malaysia, tetapi juga di Indonesia.

Ketertarikan Tuan Haji kepada dunia pengobatan herbal sudah tumbuh sejak dini. Ilmu pengbatan herbal ia peroleh dari keluarganya. “Asal mulanya dari datuk (kakek). Setelah beliau meninggal, ilmu itu diwariskan kepada ayah dan saudara saya, kemudian baru ditularkan kepada saya,” tutur Tuan Haji.

Dari pengalaman keluarganya selama bertahun-tahun, ilmu itu kemudian ia kembangkan dengan cara melakukan penelitian dan mengkajinya secara ilmiah melalui bantuan teman-temannya di perguruan tinggi. “Dengan begitu, hasil yang didapat bisa lebih baik.” ujarnya.

Kini, atas usaha kerasnya itu, semua produk HPA telah mendapatkan pengakuan dari WHO dengan mendapatkan sertifikat Good Manufacturing Practice (GMP) pada 1999. Sertifikat ini merupakan pengakuan tertinggi untuk kualitas dan khasiat produk herbal di dunia.

Berkah Keluarga

Sejak usia 12 tahun, pria kelahiran Jejawi Perlis Malaysia pada 1 Juni 1963 ini gemar bermain ke hutan untuk mencari pokok herbal dan akar kayu. Kebiasaannya itu masih sering ia lakukan hingga kini. Tak heran jika hampir setiap sudut hutan dan bukit di sekitar Perlis dan Kedah pernah ia jelajahi. Karena hobinya itu, ketika masuk bangku kuliah, Tuan Haji memilih Fakultas Pertanian di Universitas Putra Malaysia (UPM).

Lulus tahun 1985, ia kemudian bekerja di Lembaga Pertumbuhan Peladang (LPP) Kampung Kok Kelang, dekat Padang Sidin di Perlis. Karena kemampuannya di bidang herbal, ia mendapatkan Anugerah Hari Q (qualiti) dari Jabatan Perdana Menteri (JPM). Hadiahnya adalah jalan-jalan ke Indonesia.

Nah, saat berkunjung ke Indonesia itulah ia sempat mampir ke beberapa pabrik jamu tradisional seperti Mustika Ratu dan Nyonya Meneer. Dari kunjungannya itu ia berfikir untuk membuat hal serupa di Malaysia. Apa lagi kala itu permintaan obat-obatan herbal sangat tinggi. Bersama istrinya, Puan Hajjah Noorhayati, ia lalu membuat obat herbal.

Obat tersebut ia jual sendiri di pasar malam dengan mengendarai sepeda. Saat itu beliau belum fokus menjalankan usahanya, karena masih bekerja di instansi pemerintah.

Tahun 1995, Tuan Haji keluar dari pekerjaannya dan mulai fokus mengembangkan usaha penjualan obat-obatan herbalnya. Dua tahun kemudian, ia mendirikan HPA dengan membangun kawasan industri di Kuala Perlis. “Disitulah pertama kali industri (HPA) ini berkembang,” tuturnya.

Tahun itu pula Tuan Haji mulai merajut jaringan setelah sebelumnya menggunakan sistem single level marketing. Orang-orang pertama kali ia rekrut adalah teman-teman usrahnya (semacam kelompok pengajian). Ia mengaku, awalnya tidak setuju dengan sistem MLM, namun karena permintaan dari para pelanggan HPA dan setelah ada penjelasan dari gurunya bahwa sistem MLM tidak bertentangan dengan Islam, ia akhirnya menerapkan sistem itu.

Sebagaimana umumnya bisnis, HPA juga mengalami pasang surut. Tahun 1999, karena krisis ekonomi, HPA sampai oleng dan tidak mampu lagi menggaji karyawan selama 3 bulan. Bahkan dari 250 karyawan, hanya tinggal 100 orang yang bertahan. Namun Tuan Haji terus megeluarkan produk baru, walau daya beli masyarakat turun drastis.

Setelah tahun 1999, Tuan Haji tidak hanya memproduksi obat herbal, ia juga mengeluarkan produk lain yang berkualitas dan halal. Tahun 2003, HPA mulai memperlihatkan kemajuan. Dan setelah itu HPA terus melaju pesat hingga menguasai pasar Malaysia.

Salah satu kunci sukses Tuan Haji, selain produknya berkualitas tinggi, ia tetap memegang teguh prinsip-prinsip dan etika Islam.

Selain menggarap pasar Indonesia, HPA kini juga sedang bersiap melebarkan sayap usahanya di beberapa negara lain, seperti Arab Saudi, Sudan, Mesir, Uni Emirat Arab dan negeri-negeri Muslim.

Satu hal yang masih ia dambakan adalah bangkitnya ekonomi kaum muslim, tanpa tergantung cengkraman produk Yahudi. “Bangkitnya ekonomi Islam bukan dimulai dari Timur atau Barat. Islam akan dibangkitkan oleh orang-orang yang beriman dimanapun mereka berada. Kita tidak boleh mengatakan kebangkitan itu dimulai dari Malaysia, Indonesia atau tempat-tempat lainnya. Saya melihat, bila di suatu tempat terjadi tekanan yang kuat terhadap Islam, maka disitulah akan terjadi kebangkitan Islam,” ujarnya kepada Suara Hidayatullah suatu kali.

Kebangkitan ekonomi Islam itu tentu saja bukan sekedar fatamorgana. Tanda-tanda itu sudah ada. Setidaknya dimulai dari HPA. Kini HPA tidak hanya memproduksi obat, tapi sudah melebar ke yang lain.

HPA kini punya peternakan ayam organik untuk mensuplai 5 Restoran Radix Frid Chicken (RFC) di Kedah, sekaligus mendirikan pabrik saus sambalnya sendiri. Ia juga mendirikan pabrik minumn karbonasi (cola), Radix Cola, yang ditujukan kepada Umat Islam agar tidak tergantung pada produk asing Coca-Cola.

Ia juga merambah bidang pertanian (agro), perhotelan, jada ariwisata, toko buku, bahkan belakangan mulai tertarik TV dan film.

(Dwi Budiman/CHA/Suara Hidayatullah)

[Disalin dari Suara Hidayatullah Edisi Khusus 2010 Mujarabnya Thibbun Nabawi, halaman 76-77]